Artikel Opini Tradisi Budaya

Tradisi yang Tertunda, Akibat Dampak dari Pandemi Corona

Jika kita perhatikan, betapa banyak tradisi yang tertunda sebagai dampak dari pandemi corona. Bukan hanya tertunda, akan tetapi malah ditiadakan. Itu terjadi dari level nasional hingga lokal pedesaan.

Indonesia, negara yang kaya dengan tradisi dan budaya. Masing-masing kelompok masyarakat, berbasis suku misalnya, memiliki tradisi dan budaya yang khas, unik, dan berbeda. Tradisi dan budaya bangsa Indonesia, sebanding dengan banyak suku yang ada di dalamnya.

Apa itu tradisi?

Masyarakat kita selain memiliki tradisi dan budaya asli, juga menjalankan, melaksanakan, merayakan tradisi dan budaya lain. Yaitu tradisi dan budaya yang diklaim datang dari luar negara Indonesia. Namun, masuk dan menjadi bagian dari aktivitas tradisi dan kebudayaan masyarakat.

Apa itu Tradisi? Tradisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dengan secara langgeng (berulang-ulang). Demikian definisi tradisi menurut Soerjono Soekamto (1992). 

Di sini, Saya menggunakan pengertian tradisi tersebut. Keyword nya ada di “kegiatan” dan “langgeng”, berulang-ulang. Untuk memperkuat opini tradisi dan budaya, saya menambahkan satu kata kunci, yaitu “lokalitas”. Sebuah batas kewilayahan yang ekstrinsik sekaligus intrinsik.

Dari “lokalitas” kita bisa membedakan, mana sebuah kegiatan yang benar-benar dilaksanakan secara langgeng berulang-ulang dengan ciri lokalitas yang melekat.   Yang ekstrinsik menandai aspek batasan-batasan fisik. Sementara yang intrinsik, berhubungan dengan naluri kreasi, ungkapan rasa dan selera yang mewujud.

Tradisi kenegaraan yang tertunda 

Negara kita memiliki tradisi yang disebut tradisi kenegaraan. Pelaksanaannya dilakukan dari dan oleh peerintah dari level pusat hingga pemerintah desa. Yang paling populer untuk disebutkan adalah tradisi peringatan hari-hari Nasional.

Seagai dampak langsung dari pandemi corona, pelaksanaan tradisi kenegaraan ditunda. Paling tidak, format umum sebagai mana yang bisa dan berulang-ulang dilakukan. Upacara-upacara kenegaraan dalam peringatan hari-hari besar nasional berskala besar, ditiadakan. Kalaupun diadakan, pelaksanaannya dengan pembatasan-pembatasan tertentu.

Di bulan Mei ada setidaknya dua tradisi peringatan hari besar nasional. Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei dan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei. Peringatan Hari Lahir Pancasila 1 Juni, juga dilaksanakan tidak sebagaimana tradisi kenegaraan sebelumnya.

Upacara memang dilaksanakan. Tapi dengan cara live streaming, tanpa kerumunan. Semua rangkaian upacara dilaksanakan secara virtual. Penyelenggaraannya tidak seperti hari-hari normal. Peserta dibatasi dengan menggunakan standar atau prosedur ketat dan menerapkan protokol kesehatan. Karenanya, yang hadir sangat terbatas.

Tradisi masyarakat yang tertunda 

Dampak pandemi corona juga menyasar ke tradisi masyarakat. Ada beberapa tradisi yang tertunda dari kebiasaan masyarakat kita.

Pertama, tradisi mudik. Mudik adalah contoh tradisi yang tertunda. Baru di tahun 2020 ini, tidak ada laporan langsung dari media televisi perhal fenomena mudik. Ya, karena pemerintah melarang mudik. Kalaupun ada pemudik, terasa sangat terbatas aktivitasnya.

Tradisi Kenduri yang tertundaKedua, tradisi lebaran. Perayaan Idul Fitri memang dilaksanakan. Pun dengan cara yang terbatas. Tradisi Lebaran sebagai rangkaian langsung dari Perayaan Idul Fitri seperti tradisi halal bi halal, juga nyaris ditiadakan. Khususnya tradisi penyelenggaraan yang mengundang banyak peserta.

Ketiga, tradisi menikah di hari raya idul fitri. Bagi sebagian masyarakat, menjadi istimewa melaksanakan tradisi menikah di bulan Syawal. Untuk tahun 1441 H ini, pelaksanaan dan layanan pernikahan dibatasi. Pernikahan wajib dilaksanakan di kantor Urusan Agama.

Keempat, tradisi hajatan menggelar acara tasyakuran pernikahan atau sunatan. Tradisi di masyarakat pedesaan ini, bahkan ditiadakan. Atas pertimbangan meniadakan kerumunan. Tidak ada masyarakat yang menggelar hajatan. Karena memang tidak diijinkan.

Kelima, tradisi pertemuan rutin di lingkungan, juga ditiadakan. Tradisi seperti Tahlilan Rutin, Rutinan Yasinan, pertemuan RT (Rukun Tetangga), juga ditiadakan. Tradisi Kenduri pun ditiadakan.

Last but not least, itulah beberapa contoh tradisi yang tertunda sebagai akibat langsung dari dampak pandemi corona. Tentu masih banyak tradisi lainnya yang tidak  mungkin disebutkan satu per satu di sini.

Memaksa melaksanakan tradisi?

Memang ada sebagian orang, masyarakat, yang mencoba memaksakan melaksanakan tradisi. Mereka seperti tidak merasa takut dengan pandemi corona dan bahaya yang mengancamnya. Beberapa kasus sempat mencuat.

Memaksa melaksanakan hajatan, memaksa diri mudik, memaksa untuk menyelenggarakan tradisi lain tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Pada dasarnya pemerintah memberlakukan semua aturan yang dibuatnnya untuk kebaikan bersama.

PSBB, Social Distancing, Physical Distancing, dan lain sebagainya bukan tanpa tujuan. Kita tahu, tujuannya demi mencegah penyebaran covid-19 ini. Tetapi, berlakunya peraturan yang dibuat, tidak serta merta membuat semua masyarakat mengikuti peraturan yang ada.

Banyak masyarakat yang lebih memilih tradisi mereka daripada kesehatan semua pihak. Apa yang sudah menjadi aturan, haruslah kita laksanakan. Walaupun sebuah tradisi tersebut adalah sesuatu yang harus dilakukan. Sebuah tradisi masih dapat kita tunda. Tetapi kesehatan adalah anugerah dari Tuhan yang tidak dapat kita tunda apapun alasannya.

Kelak dengan New Normal, kita semua berharap, tradisi kenegaraan, tradisi agama-agama, dan tradisi masyarakat bisa berjalan lagi sebagai mana biasanya. Kita semua merindukan event dan momen tradisi bisa berjalan lagi.

Demikian sekadar artikel opini sosial Tradisi yang Tertunda, Dampak dari Pandemi Corona. Semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka. Munawar A.M. Penulis Freelance. Terima kasih sudah singgah di Blog Artikel Opini, Review & Esai Digital ini. Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment