Media Sosial Opini

Cara Agar Tidak Kebablasan Dalam Bermedsos

Bagaimana cara nya agar tidak kebablasan dalam bermedsos? Apa pula batasan-batasan kebablasan dalam menggunakan media sosial? Atau, seperti apa cara bermedsos yang beretika, yang perlu ditempuh agar bijak dalam bermedsos?

Memiliki dan menggunakan akun media sosial seperti Facebook, Twitter atau Instagram, Path, LinkedIn, tidak ubahnya menempati “rumah gratis” di dunia maya. Di sana, para pengguna bisa mengekspresikan apapun yang diinginkannya.

Sampai batasan-batasan tertentu, para pengguna terjebak ke dalam fenomena kebablasan dalam bermediasosial. Itu terjadi seiring gencarnya persebaran konten bermuatan fitnah, provokasi, intimidasi dan jenis ungkapan dan unggahan bernuansa kebencian melalui media sosial.

Fenomena kebablasan dalam bermediasosial merupakan akibat langsung dari pengguna media sosial tidak cukup melek, tidak memahami dan cenderung tidak mematuhi aturan main yang diberlakukan. Itu tentu sangat kontraproduktif. Para pengguna media sosial tanpa sadar tidak peduli dengan aturan main– dari si pemilik rumah yang sebenarnya– yang seharusnya dipatuhi dan ditaati.

Dikeluarkannya Surat Edaran Nomor SE/06/X/2015 tentang Ujaran Kebencian atau hate speech oleh Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pada tahun 2015 lalu, semakin menemukan titik singgungnya di masa sekarang.

Baca Juga :   Amien Rais dan Politik Adiluhung yang Kian Meredup

Saat itu, Polri sudah mendeteksi sedikitnya 180.000 akun yang diduga menyebarkan ujaran kebencian. Dan menarik untuk diperhatikan, bahwa rata-rata akun tersebut adalah anonim, palsu dan tidak mencerminkan identitas yang orisinal dan sesuai kenyataan (real account).

Menggunakan Akun Anonim

Mengapa mesti memilih menggunakan akun anonim? Jawabannya; boleh jadi ada yang ingin disembunyikan tentang banyak hal dari diri pengguna. Mereka patut diduga memiliki niat tidak baik, memiliki iktikad yang tidak semestinya bahkan bisa jadi memiliki niat dan perbuatan jahat. Hal itu bisa dilihat dari apa-apa yang diunggah lalu dibagikan, baik lewat bahasa verbal maupun visual.

Akun anonim mendominasi konten dengan nuansa fitnah-provokasi dan intimidasi. Mereka bergabung dalam satu group atau komunitas –semacam Fanpage di Facebook— dengan misi utama untuk mempertahankan kebenaran di satu sisi, dan menyerang siapapun yang dianggap berseberangan dengan kebenaran yang dianutnya.

Perang wacana dan pendapatpun tidak terhindarkan. Dan fenomena perang semacam itu semakin meningkat mengikuti suhu, utamanya politik bernuansa SARA atau politik aliran. Perang itu tak terbendung dan cenderung mengabsahkan konten yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, yaitu yang sejatinya adalah hoax untuk mempertahankan diri dan atau untuk menyerang pihak yang dijadikan lawan.

Baca Juga :   Pancasila Adalah Amanah Allah SWT, Sebuah Syarah

Menarik pula untuk diperhatikan kecenderungan munculnya real account (pengguna akun resmi) menceburkan diri dalam medan perang fitnah-provokasi dan intimidasi, tanpa memperhitungkan risiko kemungkinan terjerat Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Beberapa kasus akun anonim dan real account sudah suspended, atau bahkan harus berurusan dengan pihak yang berwenang.

Lalu, bagaimana cara bermedsos, agar tidak kebablasan, antara lain adalah;

Pertama, gunakan real account. Penggunaan akun asli, akun pribadi, yang dikendalikan oleh diri sendiri sebagai admin. Dengan akun resmi media sosial, hal-hal yang dituangkan dan disampaikan juga resmi, dalam pngertian bisa dipertanggungjawabkan.

Kedua, patuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Harus disampaikan bahwa pengguna media sosial harus mengupgrade pemahamannya terhadap aturan yang mengatur tata cara bermedsos yang memenuhi standar etika.

Ketiga, pelajari dan patuhi aturan main Standar Komunitas yang ditentutkan oleh penyedia platform media sosial. Mereka semua memiliki “aturan main” yang harus dipatuhi. Jika tidak, maka mereka punya kewenangan untuk melakukan take down akun media sosial, siapapun yang dipandang mereka telah melanggar.

Baca Juga :   Halal bi Halal Menurut Tuntunan Hadits

Demikian artikel singkat tentang cara bermedsos yang baik, cara agar tidak kebablasan dalam bermediasossial. Mudahmudahan bisa menambah wawasan tentang media sosial dan Semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka.Munawar A.M. Penulis Freelance. Beberapa tulisan Saya pernah dimuat di media masa. Terima kasih sudah singgah di Blog Kumpulan Artikel Opini, Review & Esai Digital ini.

Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment