Jejak Waktu Senggang

Menikah Di Hari Raya Idul Fitri Bulan Syawal

Menikah Di Hari Raya Idul Fitri di bulan Syawal. Di bulan Dzul Hijjah, di bulan Rajab atau di bulan lain dalam kalender Hijriyyah, hakikatnya sama. Ya, melaksanakan akad nikah, mengikuti Sunnah Rasulullah Muhammad SAW.

Lantas mengapa sebagian umat Islam ada yang memilih melaksanakan akad nikah di hari raya Idul Fitri? Bahkan memilih pada tanggal 1 Syawal? Hari dan tanggal yang semestinya para petugas di Kantor Urusan Agama (KUA) libur ikut merayakan Idul Fitri?

Hari ini, pas 1 Syawal 1441 H, usai Shalat Idul Fitri di Masjid, Saya diminta tetangga untuk ikut mengantar anaknya yang menikah di KUA. Sesuatu yang lazim dalam kehidupan bermasyarakat. Ada nilai dan tradisi yang harus dipertahankan; menerima ajakan, untuk saling membantu dan tolong menolong.

Atas alasan tersebut, Saya tidak bisa menolak ajakan itu. Bisa dibayangkan. Seharusnya Saya bisa bersama keluarga merayakan Idul Fitri. Akan tetapi, atas niat membantu, untuk beberapa saat, Saya tinggalkan keluarga. Demi keperluan tetangga. Demi menjalankan Fitrah Kemanusiaan, menjaga hablun minannas, menjaga hubungan baik dengan sesama.

Baca Juga :   Mercon Bumbung Bambu Ala Meriam

Nikah di KUA, Patuhi Protokol Kesehatan

Semula kurang yakin, apa di hari raya Idul Fitri dalam kondisi pandemi virus corona ini, layanan pernikahan di KUA dibuka. Nyatanya, iya. Kantor dibuka. Pelaksanaan akad nikah, dilayani oleh petugas.

Seperti diberitakan beberapa media masa, pemerintah memberikan otoritas kepada Kepala KUA guna mengatur pelaksanaan pencatatan nikah di kantornya. Layanan Nikah di KUA Harus Patuhi Protokol Kesehatan.

Dirjen Bimas Islam sudah mengeluarkan Surat Edaran No P-004/DJ.III/Hk.00.7/04/2020 tentang Pengendalian Pelaksanaan Pelayanan Nikah di Masa Darurat Bencana Wabah Penyakit Akibat Covid-19 yang isinya antara lain pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat dalam pelaksanaan akad nikah di KUA Kecamatan.

Kepala KUA kecamatan bahkan boleh menunda atau menolak mencatat pernikahan, yang tidak sesuai dengan protokol kesehatan penanganan wabah Covid-19

Ya, sebagaimana fenomena new normal, penggunaan masker wajib dikenakan oleh calon pengantin, petugas, wali dan para saksi. Pun demikian dengan pembatasan lain; tidak boleh lebih dari 9 orang yang ikut serta dalam forum pelaksanaaan akad nikah.

Baca Juga :   Amanat Jihad Muhammadiyah 28 Mei 1946, Begini Isinya

Dengan mematuhi protokol kesehatan, terbayang ribetnya? Bisa jadi. Tapi tidak seribet yang dibayangkan. Kita sudah harus lebih memahami situasi dan kondisi di mana kita ada di dalamnya. Ada tuntutan untuk adaptasi, tanpa banyak pertimbangan lagi. Jika tidak, tentu banyak hal yang menjadi tertunda. Apalagi menyangkut pernikahan.

Rasulullah menikah di bulan syawal

Ada satu keterangan yang menyatakan bahwa Rasulullah Muhammad SAW menikah di bulan Syawal. Mungkin ini yang menjadi alasan sebagian umat Islam mengambil momen pernikahan di bulan Syawal.

Sebab Rasulullah memberikan teladan dengan menikah di bulan Syawal, maka itu menjadi sunnah untuk melangsungkan pernikahan di bulan Syawal tersebut.

‘Aisyah Radiallahu ‘anha, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal, dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata, “Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di bulan Syawal” (HR. Muslim).

Jika mengikuti Hadits tersebut, maka Menikah di Bulan Syawal mendapatkan dua kesempatan sekaligus. Pertama kesempatan mencontoh dan menjalankan sunnah Nabi. Kedua, kesempatan merealisasikan apa yang sudah menjadi rencana dalam hidup; yaitu menikah itu sendiri.

Baca Juga :   Selamat Idul Fitri 1441 H

Lantas mengapa sebagian besar memilih Menikah Di Hari Raya idul Fitri? Ini fenomena unik. Tidak bisa dipilih satu jawaban yang menjadi alasan tepat. Bahwa 1 Syawal memang masuk dalam keutamaan menikah di bulan syawal. Bahkan di awal sekali di bulan Syawal.

Momen Lebaran, ditandai dengan Menikah. Menikah pas hari Lebaran. Itu alasan yang biasa diperdengarkan. Ada istilah aji mumpung. Mumpung pas Lebaran. Mumpung pas Idul Fitri. Dan alasan semacam itu, sah sah saja.

Selamat untuk Anda yang menikah di hari raya Idul Fitri. Selamat untuk anda yang menikah di bulan syawal. Semoga pernikahannya langgeng dan mendapatkan ridho dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian sekadar artikel ringan tentang menikah di bulan Syawal. Memanfaatkan waktu senggang di sela sela Idul Fitri dalama New Normal. Semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka.Munawar A.M. Penulis Freelance. Beberapa tulisan Saya pernah dimuat di media masa. Terima kasih sudah singgah di Blog Kumpulan Artikel Opini, Review & Esai Digital ini.

Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment