Artikel Opini Pendidikan

Survei UNICEF: 87% Siswa Ingin Segera Kembali Ke Sekolah

Ada yang menarik dari Survei UNICEF : 87% Siswa Ingin Segera Kembali Ke Sekolah. Survei terbaru tersebut menunjukkan bagaimana siswa belajar dari rumah selama masa pandemi covid-19.

Menarik untuk disertakan pula hasil survei UNICEF bahwa diketahui 66% siswa di Indonesia tidak bisa belajar dengan nyaman di rumah saat pandemi Covid-19.

Antara siswa ingin kembali sekolah dengan tidak bisa belajar dengan nyaman di rumah adalah dua sisi yang menarik untuk dicermati. Artikel opini pendidikan yang pendek ini ditulis dari sisi pendapat sebagai orang tua siswa.

Ada Yang Terputus dari Sekolah

Penyelenggaran sekolah (sekolahan) adalah sebuah ikatan resmi. Ikatan tersebut didesain dengan Undang-Undang dan peraturan terkait. Ikatan tersebut memenuhi syarat ditemukannya jalinan-interaktif antar berbagai komponen. Khususnya antara siswa dengan guru, juga antar-siswa itu sendiri.

Dalam ikatan tersebut, terbentuk –baik yang kasat mata, maupun yang tidak kasat mata– jalinan yang saling melengkapi dan memengaruhi. Wujud dari jalinan tersebut adalah aktifitas belajar mengajar yang khas. Juga mewujud dalam “dunia pendidikan anak-anak” yang khas pula.

Kemelekatan jalinan-interaktif tersebut tiba-tiba hilang. Ini yang saya sebut ada yang terputus dari sekolah. Ia tidak diputus, dipotong atau dihentikan oleh sekolah. Juga tidak oleh siswa dan oraang tua siswa. Ia diputus oleh pandemi covid-19. Dalam konteks bersekolah, keterputusan jalinan interaktif tersebut memberi dampak psikologis untuk siswa.

Bersekolah sebagai aktivitas, sudah menjadi denyut nadi bagi siswa. Jika denyut nadi itu terputus, kiranya bisa dibayangkan akibatnya. Ya, tidak nyaman. Ingin kembali ke sekolah(an). Kembali bersekolah.

Bersekolah Bukan dengan Orang Tua

Mendidik anak-anak merupakan kewajiban orang tua. Itu sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi. Namun, kewajiban mendidik dibatasi oleh aspek-aspek tertentu. Bukan masalah waktu, karena waktu bisa dikelola.

Kita lihat aspek berikut ini; program wajib belajar oleh pemerintah, mendorong (bukan memaksa) para orang tua untuk mengurangi kewajibannya. Jika kata “mengurangi” dianggap kurang tetap, maka Saya gunakan kata “menyerahkan sebagian kewajiban”, dengan menyekolahkan anaknya di sekolah.

Sejak saat penyerahan itulah, bersekolah bukan dengan orang tua itu menemukan titik singgungnya. Orang tua yang notabene guru atau pendidik, menyekolahkan anaknya. Para orang tua yang pekerja, menyerahkan anaknya ke sekolahan.

Kewajiban orang tua untuk mendidik, “diganti dengan kewajiban” agar proses pendidikan anaknya berjalan dengan baik. Kasat matanya; memenuhi kebutuhan biaya pendidikan. Kewajiban ini bukan dalam kapasitas “orang tua ikut bersekolah”, melainkan untuk menjamin anaknya bersekolah secara berkelanjutan.

Fenomena belajar dari rumah bisa dirasakan oleh orang tua. Tapi apakah spontan orang tua bisa otomatis menjadi pendidik? Menggantikan peran Ibu Guru, Bapak Guru? Rasanya tidak demikian. Alih-alih menjadi pendidik, malah kebingungan yang dirasakan.

Bingung menjadwal ulang waktu yang sudah biasa dijalankan; hari efektif untuk bekerja harus dimanage ulang selagi anak di rumah; perubahan sikap anak-anak selama belajar di rumah; mendadak intens berkomunikasi dengan guru; memenuhi kebutuhan kuota data internet; dan menyisihkan waktu khusus mendamping ujian online. Dan bingung tiba-tiba harus beradaptasi dengan tradisi baru belajar online.

Sekolah dan Kenyamanan Belajar

Sementara sebagian orang tua mengalami kebingungan, anak-anak merasakan ketidaknyamanan belajar di rumah. Pola komunikasi guru-siswa mendadak berubah menjadi komunikasi orang tua dengan anak.

Komunikasi ala sekolahan dan kenyamanan belajar di sekolah adalah dua faktor yang sangat menentukan keadaan keseharian anak-anak. Lalu, itu berganti dengan suasana komunikasi ala rumah. Suasana tersebut berlangsung cukup lama, 3 sampai 4 bulan, dan saat ini masih berlangsung.

Cara berkomunikasi ala rumahan dengan cara berkomunikasi ala sekolahan dalam konteks pembelajaran dan kenyamanan belajar tentu akan berbeda hasilnya. Mengapa? Karena model komunikasi diciptakan dengan cara dan kebiasaan yang berbeda.

Itu bukan berarti hendak menyatakan bahwa rumah bukan sebagai tempat belajar.

Definitely, rumah…., bagaimanapun tetap merupakan tempat belajar, namun ia bukan tempat belajar ala bersekolah yang memenuhi standar intensitas komunikasi dan jalinan interaktif khas pendidikan kita saat ini.

Dengan demikian, kita bisa memahami bahwa anak-anak tidak bisa belajar dengan nyaman di rumah. Lalu anak-anak, dan para siswa ingin segera kembali sekolah, kembali bersekolah.

Melihat dengan jernih survei UNICEF

Survei UNICEF dilaksanakan dari tanggal 18 hingga 29 Mei 2020 dan 5 hingga 8 Juni 2020 melalui kanal U-Report. Survei dilaksanakan melalui daring yang terdiri dari SMS, WhatsApp, dan Facebook Messenger.

Survei bagaimana siswa belajar dari rumah

Sebanyak 4.000 siswa dari 34 provinsi di Indonesia memberikan tanggapan dalam penelitian ini. Mari melihat dengan jernih survei UNICEF berikut ini:

  • sebanyak 87% siswa mengatakan ingin segera kembali ke sekolah.
  • sekitar 66% mengatakan mereka merasa tidak nyaman belajar dari rumah.
  • sebanyak 38% siswa kekurangan bimbingan dari guru
  • sementara 35% menyebutkan akses internet yang buruk.
  • jika pembelajaran jarak jauh berlanjut, lebih dari setengah atau 62% mengatakan mereka membutuhkan bantuan untuk kuota internet.

Sementara itu, UNICEF mendukung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan kesempatan belajar berkualitas dengan memastikan kesehatan dan keselamatan anak-anak baik di sekolah maupun di rumah.

Sebagai orang tua, saya sangat mendukung dua hal di atas dengan cara berikut ini: pertama sekolah memastikan diri aman dari ancaman bencana corona, dan yang kedua, sekadar usulan perlnya langkah-langkah menyiapkan sekolah aman dari corona.

Demikian artikel pendek opini pendidikan mengomentasi hasil survei UNICEF: : 87% Siswa Ingin Segera Kembali Ke Sekolah. Sebagai orang tua, kita bisa memahami fenomena bahwa anak-anak kita sedang mengalami kejenuhan, karenanya tidak bisa belajar dengan nyaman di rumah. Semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka. Munawar A.M. Penulis Freelance. Terima kasih sudah singgah di Blog Artikel Opini, Review & Esai Digital ini. Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment