Agama Islam Media Sosial Opini

Ngaji Online, Mengaji di Ruang Digital

Mengaji di ruang digital, ngaji online, sudah menjadi trend masyarakat kekinian. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Bagaimana pula hasilnya?

Media internet dengan ruang-ruang digitalnya memang telah begitu dekat dengan kita. Mungkin malah telah sangat melekat bagi sebagian orang, sehingga tidak dapat dipisahkan. Di ruang digital, jutaan laman atau website hadir, tumbuh bak cendawan di musim hujan, ada yang mati ada yang bertahan.

Ustad Online

Semakin banyak website keagamaan bermunculan, mereka menyajikan beragam informasi sesuai yang mereka mau atau sesuai yang pengguna butuhkan dari informasi ringan berupa berita hiburan, hingga yang bersifat ilmiah akademis, yang menjadi rujukan banyak pengguna atau netizen.

Di ruang digital itu, juga ditemui hampir tak terhitung situs-situs yang menyediakan informasi keagamaan Islam, baik yang menyangkut informasi berita keislaman, pembahasan tentang amaliyah ibadah, maupun tanya jawab seputar hukum Islam. Ustad Online pun semakin banyak bermunculan.

Situs-situs keislaman nyaris tak terhitung jumlahnya. Mereka hadir dan jelas-jelas tampil dengan mengusung Mazhab dan Aliran keislamannya masing-masing, yang dituangkan dalam bentuk informasi hingga kajian-kajian keislaman yang lebih lengkap. Mereka menjadi rujukan informasi, keilmuan dan amaliyah ibadah sehar-hari, lalu dipedomani, diamalkan dan diajarkan kepada yang lain.

Baca Juga :   Membuka Kembali Aktivitas Keagamaan di Tempat Ibadah

Atas kebutuhan akan hal itu, tidak jarang para pengguna menjadikan internet sebagai media mengaji. Jika di antara kita ada yang suka mengaji tentang agama Islam melalui media internet, dan termasuk yang memiliki kecenderungan memahami agama Islam melalui melalui situs-situs keislaman, kita sebenarnya sedang “mengaji di ruang digital”.

Karakteristik media digital yang easy access, mudah diakses, lebih instan dalam penyajian dan materi kajiannya yang applicable atau mudah diterapkan, memungkinkan seseorang untuk menempuh jalan cepat dalam memperoleh ilmu dan pengetahuan keagamaan Islam.

Mengaji di ruang digital kemudian menjadi fenomena aktifitas alternatif di tengah kesibukkan sehari-hari; dilakukan dalam kondisi yang diciptakan sendiri, kapanpun dan di manapun. Tidak ada perjumpaan langsung antara guru dengan murid dalam satu majelis, karena sudah terwakili oleh laman yang ada. Tidak lagi harus terjadi proses tatap muka langsung dengan seorang Kyai, Guru, Ustadz, tidak memerlukan komunikasi timbal balik karena sudah terwakili oleh materi yang tersaji.

Santri Digital

Hal-hal semacam itulah yang dikhawatirkan oleh banyak pihak, karena ngaji online, mengaji di ruang digital bisa menghasilkan produk pemahaman keislaman yang sepotong-sepotong, tidak komprehensif, sanad (alur) keilmuannya terputus, dan menghasilkan sosok “santri digital”.

Baca Juga :   Survei UNICEF: 87% Siswa Ingin Segera Kembali Ke Sekolah

Ciri dari seorang santri digital adalah ketiadaan pemahaman yang cukup terhadap dasar-dasar pemahaman ilmu agama yang diperlukan. Akibatnya, pemahaman yang dihasilkan bersifat tekstualis, rigid. Lebih memilih melakukan by pass pemahaman dalam menemukan kebenaran, lalu mengklaim kebenarannya sendiri dan menganggap yang lain salah, hingga sesat-menyesatkan, kafir-mengkafirkan, atau bahkan terjebak ke dalam mindset radikalisme dan terorisme

Kita cermati hasil survei Wahid Foundation bekerja sama dengan Lembaga Survey Indonesia (2016), yang menunjukkan anak muda memiliki potensi tinggi untuk masuk jaringan dan kelompok radikal. Survei terfokus pada pemuda muslim negeri ini sebagai bahan analisis.

Anak-anak muda, dengan luapan emosi, egoisme, amarah yang dikombinasi dengan pencarian jati diri, menjadi sasaran utama rekrutmen kelompok radikal yang mengembangkan jaringan. Melalui media sosial, informasi-informasi tentang jaringan radikal, dan bahkan teroris, membangkitkan minat anak-anak muda untuk terhubung ke dalam kelompok radikal.

Tradisi Mengaji

Aktifitas mengaji merujuk pada proses belajar membaca dan memahami Al Qur’an atau membaca dan memahami isi kandungan banyak Kitab, seperti Kitab Tafsir, Tauhid, Fikih, Akhlak, Tasawuf dan gramatika bahasa Arab. Tradisi mengaji biasanya ada di lingkungan pesantren dan lembaga pendidikan Islam sejenis.

Mengaji memenuhi tuntunan Nabi Muhammad Saw dalam konteks kewajiban Tholabul ‘Ilmi (mencari ilmu) sehingga ia bernilai ibadah dan orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala dari Allah. Mengaji dilaksanakan secara berjenjang, tidak hanya kelasnya, namun juga materi yang dibahasnya. Ini dilakukan agar proses mengaji berjalan secara sistematis demi untuk menjembatani proses pemahaman dari yang mendasar sampai yang expert.

Baca Juga :   ZIS Untuk Orang Terdampak Virus Corona

Keterlibatan guru dan murid atau Kiai dengan santri yang aktif memunculkan proses interaksi dialogis, mengaji menjadi aktifitas mengkaji. Dan yang kita ketahui, di dalam proses mengkaji, dituntut keterlibatan aktif dan kesabaran dari para pelakunya, membutuhkan waktu yang lama, diulang-ulang.

Untuk sebuah tujuan diperolehnya pemahaman keislaman yang lebih komprehensif, alangkah baiknya kita menempatkan internet sebagai bagian dari salah satu media, bukan satu-satunya media, dalam mengaji.

Aktifitas ngaji online, tadarus online-tadarus daring, “mengaji di ruang digital” juga sebaiknya jangan pernah menggeser aktifitas mengaji dan mengkaji yang selama ini kita kenali, karena ia telah menjadi penyebab sepinya majelis-majelis pengajian dan pengkajian keislaman lainnya, termasuk yang berbasis remaja masjid.

Sebelum terlambat, mari kita ingatkan generasi muda kita untuk kembali mengaji dengan metode pembelajaran yang jauh dari potensi pemahaman sempit, rigid, tekstualis. [Demikian semoga Bermanfaat]

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka.Munawar A.M. Penulis Freelance. Beberapa tulisan Saya pernah dimuat di media masa. Terima kasih sudah singgah di Blog Kumpulan Artikel Opini, Review & Esai Digital ini.

Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment