Agama Artikel Opini

Cara Membentuk Kepribadian Yang Kuat

Membentuk kepribadian yang kuat secara moral dan etika membutuhkan dasar kepribadian yang kuat pula. Bagaimana cara membentuk kepribadian yang kuat baik secara moral maupun secara etika?

Menurut Franz Magnis-Suseno (1989), “Kata moral, selalu mengacu pada baik-buruknya manusia sebagai manusia. Jadi bukan mengenai baik buruknya begitu saja”. Ada aspek kemelekatan yang tidak bisa dipisahkan. Katakanlah baik-buruknya pemimpin, tidak bisa dikaitkan secara tunggal dengan jabatannya semata.  Tanpa mengaitkan dirinya sebagai manusia.

Sebagai manusia, kita hidup di dalam masyarakat. Ada bidang moral dan norma-norma moral yang melingkupi. Bidang moral adalah bidang kehidupan manusia dilihat dari kebaikannya sebagai manusia.

Dengan norma-norma moral, kita sebagai manusia dan kehidupan kita di masyarakat, betul-betul dinilai oleh orang lain, oleh agama yang kita anut atau oleh lembaga di mana kita berada. Penilaian secara moral itu terjadi, bahkan tanpa kita sadari.

Kekuatan moral yang merosot

Penilaian secara moral selalu berbobot, karena kita tidak dilihat dari salah satu segi saja, melainkan dari segi “sebagai manusia” secara mutlak dan komprehensif. Penilaian secara moral bahkan terkadang lebih berbobot dari pada penilaian secara hukum.

Itu sebabnya, kita mengenal ungkapan “melanggar secara moral dan etika belum tentu melanggar secara hukum, akan tetapi, melanggar secara hukum sudah pasti melanggar secara etika dan moral”.

Studi kasus; mundurnya Ketua DPR RI, Setya Novanto, yang terjadi beberapa tahun yang lalu menunjukkan ada persoalan moral.  Persoalan itu berupa kekuatan moral yang merosot. Namun sekaligus memunculkan munculnya kekuatan moral yang hadir bersama.

Moral yang merosot tercermin dari perilaku persekongkolannya, sementara kekuatan moral tercermin dari pengunduran dirinya. Ada moral judgmen,  keburukan sekaligus kebaikan pada dirinya.

Kita bisa membayangkan bagaimana puncak penilaian moral oleh masyarakat jika seandainya ia tidak mengundurkan diri. Sudah mengundurkan diripun, moral judgmen sepertinya tidak memuaskan masyarakat, sebab, masyarakat menghendakinya untuk mundur juga dari jabatan sebagai Ketua dan anggota DPR.

Baca Juga :   Pilihan Praksis Keberagamaan dan Penghayatan Agama

Empat Dasar kepribadian yang kuat

Dasar utama setiap usaha untuk membentuk kepribadian yang kuat secara moral dan etika adalah kejujuran, keberanian untuk bertanggungjawab, kemandirian moral dan keberanian moral.

[1] Kejujuran

Kejujuran adalah Fundamen kepribadian yang pertama. Cara membangun kepribadian yang kuat secara moral dan etika harus dilandasi dengan kejujuran Tanpa kejujuran kita sebagai manusia tidak dapat maju selangkahpun karena kita belum berani menjadi diri kita sendiri; hampir dipastikan semua keutamaan-keutamaan moral –entah itu yang bersumber dari tradisi, agama maupun aturan-aturan formal—akan kehilangan nilainya.

Kita ambil contoh; bersikap baik terhadap orang lain tanpa kejujuran adalah kemunafikan. Sikap terpuji yang tercermin dalam sepi ing pamrih rame ing gawe, menjadi sarana kelicikan dan penipuan.

Itu bisa saja terjadi apabila tidak berakar pada kejujuran yang bening. Sebaliknya, kehati-hatiaan yang berlebihan justeru bisa dimaknai sebagai upaya menutupi hal yang sebenarnya. Untuk tidak diketahui orang lain.

Kejujuran mengandaikan opennes/keterbukaan dan fairness/kewajaran. Keterbukaan menghendaki agar kita tampil sebagai diri sendiri, sesuai dengan keyakinan kita dan tidak menyembunyikan otentisitas / keaslian kita.

Berkelit secara hukum mungkin saja atas dasar ketiadaan bukti otentik. Akan tetapi tidak demikian halnya dalam hal moral dan kejujuran otentik. Kejujuran otentik menghendaki kita untuk bersikap wajar dengan berhenti membohongi diri kita sendiri. Berhenti bermain sandiwara, berhenti melakukan pencitraan dan pembawaan diri yang berlebihan.

Orang jujur tidak perlu mengompensasikan perasaan minder dengan menjadi otoriter dan menindas orang lain. Kejujuran otentik yang sebenarnya, mengandung kekuatan yang luar biasa. Bahkan jika dibuat malu pun, seseorang tidak akan patah karena kejujurannya.

[2] Kebersediaan untuk bertanggungjawab

Cara membangun kepribadian yang kuat secara moral dan etika yang kedua adalah kebersediaan untuk bertanggungjawab. Implikasi nyata dari kejujuran adalah kesediaan untk bertanggungjawab.

Hari ini kita semakin membutuhkan orang-orang yang memiliki ciri pribadi yang bersedi bertanggungjawab. Kejujuran sebagai kualitas dasar kepribadian moral seorang pemimpin menjadi operasional dalam kesediaan untuk bertanggungjawab.

Baca Juga :   Ketika Kiai Ngaji Online di Media Sosial

Apakah pengunduran diri seseorang mencerminkan kejujuran sekaligus kebersediaan untuk bertanggungjawab? Bukankah karena kuatnya desakan publik? Atau siasat semata secara politis untuk menghindari kepastian dirinya dinyatakan bersalah secara etik? Kejujuran otentik dan rasa tanggungjawab seseorang hanya dia sendiri yang menggaransi.

Pengunduran diri merupakan manifestasi kesediaan untuk bertanggungjawab –dengan statemen demi dan untuk menjaga kehormatan lembaga DPR. Sementara dia telah melampaui rasa kelalaian dan kesalahannya sebagaimana dipersangkakan oleh MKD.

Dia secara moral dan etik menunjukkan kebersediaan untuk dipersalahkan. Tepat kiranya bahwa dia memang bersalah, secara moral dan etik.  Bagaimana seorang pemimpin mau dipersalahkan secara moral? Itulah corak pemimpin yang justeru memiliki kepribadian moral dan batin yang kuat.

[3] Kemandirian moral

Cara membangun kepribadian yang kuat secara moral dan etika yang ketiga adalah Kemandirian Moral. Pemimpin yang kita butuhkan adalah yang memiliki kejujuran otentik, bersedia bertanggungjawab sekaligus memiliki kemandirian. Pemimpin yang memiliki kemandirian moral tidak pernah membeo, mudah terombang ambing dan lalu masuk angin.

Kemandirian moral adalah kekuatan batin yang bagaimanapun juga tidak mau berkongkalingkong dalam satu urusan atau permainan yang disadarinya tidak jujur, koruptif dan melanggar keadilan. Pendek ungkapan, kemandirian moral tidak bisa dibeli.

Mandiri secara moral berarti tidak dapat “dibeli” oleh siapapun. Secara batin ia juga bersedia untuk tidak sepakat dalam kebersamaan, kalau ternyata kesepakatan itu melanggar keadilan dan mencederai rasa keadilan.

[4] Keberanian moral

Kemandirian moral saja tidak cukup karena pemimpin membutuhkan keberanian moral. Cara membangun kepribadian yang kuat secara moral dan etika yang keempat adalah keberanian moral.

Keberanian Moral adalah kesetiaan terhadap suara hati yang menyatakan diri dalam kesediaan untuk mengambil risiko konflik. Suatu keberanian moral bisa berarti berpihak kepada yang lemah dengan melawan yang kuat yang memperlakukannya dengan tidak adil.

Baca Juga :   14 Kriteria Miskin dan Orang Tidak Mampu

Keberanian moral tidak menyesuaikan diri dengan kekuatan-kekuatan yang ada kalau itu berujung pada mengompromikan kebenaran dan keadilan. Pemimpin dengan keberanian moralnya harus memberikan semangat dan kekuatan. Memberikan pembelaan kepada yang lemah dan tertindas, yang menderita akibat kezaliman pihak-pihak yang kuat dan berkuasa.

Dasar kepribadian yang kuat di atas menjadi bagian jawaban atas pertanyaan Bagaimana Cara Membentuk Kepribadian Yang Kuat Secara Moral Dan Etika

Supremasi moral dan etika

Sebagaimana hukum, moral dan etika adalah dua hal yang supreme, berketinggian, berkehormatan dan berkemuliaan. Itu kenapa kita mengenal supremasi moral dan etika, sebagaimana supremasi hukum.

Supremasi moral dan etika, keduanya sangat tidak pantas jika menjadi bahan olok-olok, menjadikannya permainan, sandiwara dan dagelan. Karena kita yakini bahwa moral dan etika semakin kita butuhkan dalam kerangka berbangsa, bernegara dan bermasarakat. Terlebih bagi para pemimpin kita.

Supremasi moral dan etika setingkat lebih tinggi jika disejajarkan dengan supremasi hukum. Membangkitkan kembali supremasi moral dan etika sangat ditentukan oleh terbangunnya kepribadian moral yang kuat.

Hari ini, kepribadian semacam  itu semakin dibutuhkan dan harus dimiliki oleh –serta melekat dalam diri– para pemimpin, dan juga kita semua.

Kita hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding. Perubahan terjadi di bawah hantaman kekuatan yang mengenai semua segi kehidupan termasuk kehidupan ekonomi, sosial, budaya, intelektual dan politik.

Dalam situasi ini, etika mau membantu agar kita jangan kehilangan orientasi. Kehidupan boleh berubah namun kita harus tetap sanggup untuk mengambil sikap moral, sebagai manusia yang bertanggungjawab.

Finally, kita tidak boleh berhenti untuk terus membentuk kepribadian yang kuat secara moral dan etika. Itu harus ditanamkan pada generasi kita.

Demikian artikel opini tentang bagaimana cara membentuk kepribadian yang kuat secara moral dan etika. Semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka. Munawar A.M. Penulis Freelance. Terima kasih sudah singgah di Blog Artikel Opini, Review & Esai Digital ini. Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment