Esai Islami

Puasa Ramadhan, Kendali Bahasa Hati dan Bahasa Sistem

Ketika bahasa hati yang bicara, maka bahasa sistem dalam upaya menciptakan kendali kita yakini bakal menemukan efektivitasnya; dan itu bisa dilakukan dengan praktik puasa Ramadhan.

Andai puasa Ramadhan tak berhenti sebagai ritus, diserap benar-benar sebagai mentalitas dan perilaku, bisa jadi sebagian di antara kodrat penyimpangan sosial manusia bisa ditekan.

Betapa indah andai kita hidup di tengah masyarakat yang mengembangkan dan menjaga mentalitas Ramadhan; pengendalian dalam apa saja berbasiskan pada bahasa hati. Ketika bahasa hati yang bicara, maka bahasa sistem dalam upaya menciptakan kendali — misalnya dalam membangun good governance — kita yakini bakal menemukan efektivitasnya.

Segi-segi ideal seperti itulah yang selalu muncul dalam gambaran ketika Ramadhan tiba. Pun, ketika umat Islam sedunia mulai hari ini menjalaninya pada tarikh hijriyah 1444. Idealita itu makin terasa sebagai impian, manakala hari-hari ini kehidupan berbangsa dan bernegara kita diuji oleh makin banyak kebobrokan yang bersumber dari penyimpangan kekuasaan.

Bahaya bias kekuasaan, seperti telah sering dicatat dalam sejarah, membuktikan kebenaran tesis-tesis klasik kehidupan politik. Kecenderungan korup, lalu perilaku naluriah manusia dalam pemenuhan-pemenuhan aneka kebutuhan yang makin bertingkat, sesungguhnya membutuhkan oase terapi untuk menyadarkan adanya ”batas”.

Orang Jawa punya nasihat bijak mengenai hidup yang sak madya, sedangkan Alquran mengingatkan tentang ”kulu wasyrabu wala-tusyrifuu…” atau ”makan dan minumlah, dan jangan berlebihan…”

Peringatan-peringatan dini semacam itu, hakikatnya adalah ”kendali spiritual”, yang hanya bisa diselami oleh bahasa hati. Sistem birokrasi dan penyelenggaraan negara merumuskan kendali atas keniscayaan penyimpangan itu lewat sistem untuk mencegah perilaku korupsi.

Namun bahasa sistem, dengan melihat kemarakan korupsi di berbagai lembaga kekuasaan, terbukti belum cukup mempan untuk menjadi barikade penghadang niat orang-orang yang duduk di dalamnya. Di dalam sistem, kultur dan struktur kiranya memberi warna.

Maka mengapa Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan revitalisasi sikap berpuasa dengan ungkapan tepat, ”Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Itulah kalau kita terjebak pada ritualisme, yang dilakukan berhenti sebatas penuntasan ritus syariah tanpa menginternalisasi muatan atau substansinya.

Jadi titik terpenting dari revitalisasi itu adalah bagaimana menyerap syiar Ramadhan sebagai kemarakan hati, membahasakan pelipatan ketakziman ke dalam ungkapan perilaku sosial kita.

Ramadhan menuang ajaran hidup indah, mentalitas kendali diri dan akhlak sosial dalam sebuah ”kampung takwa” yang dijanjikan Allah lewat ”la’allakum tattaquun” ketika kita menjalaninya dengan benar.

”Kampung takwa” merupakan gambaran hidup yang penuh rahmat, saling memberi respek, saling menolong, dan kita tahu batas-batas hidup apa saja dan mana saja yang menjadi milik dan bukan milik kita. Betapa bodoh dan meruginya jika kita tidak mendapatkan apa pun dari serapan nilai-nilai Ramadhan. Selamat berpuasa!

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka. Munawar A.M. Penulis Freelance. Terima kasih sudah singgah di Blog Artikel Opini, Review & Esai Digital ini. Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Terima kasih sudah singgah. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button