Artikel Esai Islami Perjalanan Spiritual

25 Perjalanan Fisik Haji Yang Perlu Diketahui

Haji adalah perjalanan fisik. Haji juga adalah perjalanan spiritual. Bagi sebagian calon jemaah haji, mungkin sebaliknya; bahwa haji adalah perjalanan spiritual sekaligus perjalanan fisik. Berikut ini artikel esai Islami singkat tentang 25 perjalanan fisik haji yang baik dan perlu untuk diketahui.

Seperti yang kita lihat dengan kasat mata. Makna dan pengertian haji sebagai perjalanan fisik adalah karena dalam pelaksanaannya, fisik –jasad, jasmani, tubuh, badan– mengambil peran penting, bahkan sangat penting. Sejak persiapan, keberangkatan, saat pelaksanaan ibadah haji, hingga kepulangan kembali.

Masjidil Haram Pusat Perjalanan Ibadah Fisik Haji

Masjidil Haram dan Lokasi Bangunan di sekitarnya

25 Perjalanan Fisik Haji

Selama melaksanakan ibadah haji tahun 2019 yang lalu, Saya mencatat setidaknya ada 25 Perjalanan Fisik Haji, apa saja?. Berikut selengkapnya;

[1] Perjalanan dari rumah ke bandara / embarkasi keberangkatan, jemaah haji membutuhkan kesiapan fisik yang prima.

Menyiapkan perjalanan fisik haji identik dengan menyiapkan kesehatan. Dengan badan yang sehat kemudian tergambar; bisa melaksanakan perjalanan menuju Mekkah untuk menjalani rangkaian ibadah haji. Apa demikian? Tidak sepenuhnya benar.

Keputusan bisa melanjutkan perjalanan fisik ada di pemeriksaan kesehatan ada di petugas kesehatan. Boleh jadi, seseorang gagal berangkat justru sebelum perjalanan pamit dengan keluarga. Dan itu tidak sedikit contohnya. Ada yang meninggal dunia. Ada yang memang secara medis tidak mungkin mendapatkan rekomendasi untuk berangkat.

Petugas kesehatan di Embarkasi lebih menentukan. Di sana, dengan perlindungan hukum, mereka berwenang, bahkan secara aturan berkewajiban untuk menentukan seorang jamaah haji bisa melanjutkan atau tidak bisa melanjutkan perjalanan. Ya, banyak hal dipertimbangkan. Fisik yang terlihat bugar belum merupakan jaminan psikis yang sehat.

Perjalanan fisik ibadah haji boleh diklaim ketika berpamitan dengan anak, keluarga tetangga dan kerabat. Tapi sejatinya bukan di situ. Tangis haru saat berpamitan, tidak bisa tergantikan dengan suasana batin jika mendapati keputusan tidak diperkenankan melanjutkan perjalanan haji.

Perjalanan di Udara

[2] Perjalanan menggunakan kapal terbang atau pesawat udara, kondisi fisik harus terjaga dengan baik

Naik pesawat udara bagi jemaah haji, baik saat berangkat maupun saat pulang, boleh jadi itulah pengalaman sekali seumur hidup. Saya hendak menyatakan; jika bukan lantaran perjalanan haji, fisik tidak akan pernah menyentuh kursi pesawat selama hidup. Tidak pernah merasakan bagaimana rasanya menempuh perjalanan udara di dalam pesawat selama belasan jam.

Menyiapkan perjalanan di udara membutuhkan kesehatan yang baik. Di sini, selama di pesawat, keberadaan petugas medis sangat dibutuhkan. Sepatutnya disyukuri. Sebab, mereka telah memiliki modal pengetahuan tentang kondisi masing-masing calon jemaah haji yang menjadi tanggungjawabnya.

Dinginnya kabin pesawat. Calon jemaah haji tidak bisa meminta kepada awak pesawat untuk mengecilkan air conditioner. Pengaturan suhu menjadi domain mereka. Kondisi fisik harus mampu bertahan dalam suasana dingin. Apalagi, jika ada keharusan di mana pakaian ihrom harus dipakai sejak sebelum masuk ke dalam pesawat. Bagi jemaah calon haji yang tidak terbiasa dengan suasana dingin, bisa jadi perjalanan fisik nya terhambat.

Di dalam pesawat, tidak mudah menyesuaikan diri. Bukan hanya dengan suasana dingin. Melainkan untuk bisa langsung buang air kecil, atau buang air besar, secara langsung dan lancar butuh penyesuaian seketika. Karena tidak ada praktik di luar pesawat untuk hal itu. Alih-alih tidak bisa buang air kecil, ditahan malah menyebabkan rasa sakit di bagian tubuh lain.

Kebugaran fisik harus dijaga

Kebugaran fisik harus terjamin. Dibutuhkan asupan yang cukup. Tidak perlu membawa makanan ke dalam pesawat, tapi ada calon jemaah haji yang kadang nekat. Selama di pesawat diberikan makanan, minuman, terjadwal. Belum tentu menu makanan bisa sesuai dengan kondisi kesehatan. Ada jenis makanan yang tetap harus dihindari.

Bagi sebagian jemaah haji, perjalanan di udara menghadirkan pengalaman ketegangan yang tak berkesudahan. Sejak dari take off pesawat sudah diselimuti perasaan menegangkan. Bisa dimaklumi karena bisa jadi ini naik pesawat untuk pertama kali. Ketegangan secara perasaan berpengaruh pada ketegangan fisik, tentu ini mengganggu selama perjalanan.

Kondisi cuaca tidak selalu baik dan ramah untuk perjalanan pesawat. Guncangan demi guncangan tidak bisa dihindari. Peringatan demi peringatan disampaikan pilot. Agar jemaah calon haji tetap duduk tenang sambil mengikatkan kembali sabuk pengaman. Kondisi ini juga sangat berpengaruh pada stabilitas psikis.

Sementara itu, duduk di pesawat dalam waktu belasan jam dengan posisi tempat yang sempit membutuhkan relaksasi anggota tubuh. Relaksasi membantu kebugaran agar fisik terjaga. Sesekali harus melakukan gerakan-gerakan yang bisa mengendurkan otot dan saraf. Dengan relaksasi, kondisi fisik calon jemaah haji terjaga.

Perjalanan di Udara baru merupakan permulaan dari 25 perjalanan fisik haji. Masih ada perjalanan yang lebih banyak lagi.

[3] Menggunakan Bus untuk perjalanan fisik dari bandara ke Masjid Nabawi di Madinah, untuk jemaah haji gelombang I

Rute Perjalanan Fisik Haji yang harus dipegang jemaah

Rencana Perjalanan Haji.

Perjalanan Jeddah-Mekah

[4] Atau perjalanan fisik menggunakan Bus dari Bandara Jeddah ke Mekah untuk jemaah haji gelombang II

25 perjalanan fisik haji di tanah Arab dimulai. Turun dari pesawat, baik di Mekah maupun di Madinah, itulah perjalanan fisik di darat untuk pertama kali. Jalan kaki menuju bus penjemputan menuju Maktab (penginapan). Tas jinjing tidak boleh ketinggalan. Masing-masing harus memastikan tas bawaannya tidak tertukar, apalagi tertinggal. Ini menjadi tambahan beban fisik selama perjalanan.

Perjalanan darat naik Bus (Jeddah-Mekah, seperti yang Saya alami) membutuhkan waktu lebih kurang 3 jam. Bus disetting dengan AC yang cukup dingin. Kondisi ini mengharuskan kehati-hatian yang ekstra. Terlebih bagi jemaah yang sudah mengenakan pakaian ihram. Larangan-larangan ihram harus dan wajib dijaga.

Tidak ada pilihan lain untuk menjaga niat haji dan Umrah (wajib) yang sudah dilaksanakan di dalam pesawat. Sedikit pelanggaran atas larangan, seperti sekadar menutup kepala bagi jemaah haji laki-laki, sudah dikenai dam, denda.

Sejak dari perjalanan darat ini, harus tetap diingat dan dikuatkan untuk berikhtiar menggapai kemabruran haji, dengan menjaga diri untuk tidak melakukan pelanggaran.

Ada rasa penasaran tentu untuk melihat Jazirah Arab untuk pertama kalinya. Beruntung jika perjalanan siang hari. Selama perjalanan bisa melihat kanan dan kiri. Jika kebetulan kebagian perjalanan malam hari, dipastikan hanya bisa menyaksikan lampu-lampu sepanjang jalan.

Baca Juga :   Menunda Puasa?

Memanfaatkan waktu perjalanan untuk tidur, menjadi pilihan. Alhamdulillah jika menemukan Supir dan Kondektur Bus yang ramah dan mengendarai Bus dengan baik.

Perjalanan Fisik Thawaf dan Sa’i

[5] Perjalanan fisik haji yang sesungguhnya di Masjidil Haram adalah saat Thawaf dan Sa’i,  baik untuk Umrah Wajib maupun Umrah Sunah, atau Thawaf Sunah.

Jemaah haji Tamattu’ mengambil Miqat Haji dan Umrah di Qornul Manazil (dari dan di dalam pesawat, termasuk melaksanakan niat Haji). Sesaat tiba di maktab masih wajib mengenakan pakaian Ihrom sampai Umrah Wajib selesai dilaksanakan. Kondisi fisik harus benar-benar terjaga.

Untuk pertama kali jemaah haji menuju Masjidil Haram. Menggunakan Bus dari Maktab sampai terminal Bus. Dari terminal jalan kaki satu Kloter bersama-sama, menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan Umrah Wajib, Thawaf dan Sa’i.

Ibadah Thawaf, perjalanan fisik mengeliling Ka’bah membutuhkan waktu rata-rata 1 jam untuk 7 putaran. Sangat bergantung pada kondisi pelataran Ka’bah. Musim haji memastikan tidak ada ruang longgar untuk pelaksanaan Thawaf. Jalan berdesakan, fokus ke Thawaf, dinikmati saja sambil memperbanyak doa.

Di putaran Thawaf, terpisah dari rombongan hampir tidak bisa dihindari. Tersesat di dalam putaran Thawaf juga sangat mungkin. Itu mengapa ada pembagian Rombongan dan Regu jemaah haji. Macam-macam cara jemaah haji mengelilingi Ka’bah; ada yang berjalan agak cepat, ada yang lambat. Ada juga yang suka menerjang menerobos rombongan. Memotong barisan.

Fisik saat Sa’i, Jalan Cepat dan Lambat

Ibadah Sa’i merupakan salah satu rukun Umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari kecil) bolak-balik 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Kedua bukit yang satu sama lainnya berjarak sekitar 405 meter.

Perjalanan Sa’i dibagi dua; jalan cepat dan lambat. Sa’i yang dilaksanakan setelah Thawaf. Seperti halnya Thawaf, Sa’i juga membutuhkan kondisi fisik yang baik. Keadaan fisik saat Sa’i dilaksanakan adalah keadaan fisik setelah perjalanan Thawaf. Bisa dibayangkan?

Selain membaca doa doa pada masing-masing putaran Sa’i ada baiknya merenungkan bagaimana perjalanan Hajar, isteri Nabi Ibrahim, Ibu dari Nabi Ismail, yang menjadi dasar pelaksanaan Sa’i. Niscaya kita akan sangat bersyukur, baik sebagai Bapak, Isteri, maupun sebagai anak.

Di beberapa sisi Mas’a (tempat pelaksanaan Sa’i) disediakan locker Air Zam Zam. Jemaah haji boleh menyempatkan untuk mengambil atau meminumnya sepanjang pelaksanaan Sa’i. Perjalanan fisik Sa’i diakhiri dengan Tahallul. Dilanjutkan perjalanan kembali ke Maktab.

Dari 25 perjalanan fisik haji, perjalanan jalan kaki saat Thawaf dan Sa’i inilah yang menyita banyak sekali tenaga. Selain dilaksanakan tepat waktu, juga sebaiknya tidak berhenti, kecuali ada udzur.

Perjalanan Umroh Sunnah

[6] Mengambil Miqat Umrah menempuh perjalanan dari Maktab ke Tan’im atau Hudaibiyyah kemudian kembali ke Mekah

Mengambil Miqat di Tan’im, Hudaibiyyah atau di Ji’ranah dan Masjid Bir Ali atau Masjid Dzulhulaifah (dari Madinah) perjalanan menggunakan Bus.

Minimal 2 (dua) Umrah Sunnah dilaksanakan. Umroh Sunnah ini juga harus terpenuhi rukun-nya, yaitu; Thawaf dan Sa’i. Artinya, perjalanan tersebut membutuhkan kebugaran fisik.

Di sini perjalanan Fisik Haji berupa pengambilan Miqat Umroh.

Masjid Tan’im, Masjid Ummul Mukminin Aisyah RA.

Umroh Sunnah selebihnya diserahkan kepada masing-masing jemaah haji. Selama berada di Mekah, manfaatkan waktu untuk melaksanakan Umroh di luar jadwal yang sudah ditetapkan. Ini bisa menghadirkan pengalaman perjalanan ibadah haji yang lebih banyak dan lebih bermanfaat.

Termasuk pengalaman melaksanakan Umroh Sunnah dengan Thawaf dan Sa’i di lantai atas Masjidil Haram; tempat di mana para jemaah Haji berkebutuhan khusus (misal, berkursi roda) melaksanakan Thawaf dan Sa’i. Lihat mereka, dalam keadaan keterbatasan fisik, tapi dalam semangat yang luar biasa.

 [7] Beberapa perjalanan menuju tempat-tempat ziarah /wisata di sekitar kota Mekah yang disediakan oleh penyelenggara bimbingan ibadah haji.

Antar penyelenggara bimbingan ibadah haji menyediakan paket City Tour. Beberapa tempat dikunjungi, sepeti Jabal Nur, Jabal Rahmah di Arafah, melintasi Mina dan Muzdalifah. Perjalanan ini menggunakan Bus.

Tempat-tempat lain yang ditempuh dengan perjalanan fisik antara lain; Madinaturrasul, “rumah” tempat dilahirkannya Nabi Muhammad SAW. Ini bisa dikunjungi secara mandiri, karena lokasinya dekat dengan Masjidil Haram. Beberapa tempat juga dikunjungi seperti Masjid Jin dan Jannatul Ma’la.

Menjaga Fisik selama sebulan di Mekah

[8] Selama berada di Mekah kurang lebih 30 hari menempuh perjalanan fisik haji, pulang pergi, bisa jalan kaki atau naik Bus, dari Maktab ke Masjidil Haram

Menjaga Fisik selama kurang lebih sebulan di Mekah mutlak diperlukan. Karena saat itulah perjalanan pergi-pulang atau pulang-pergi dari Maktab-Masjidil Haram dan sebaliknya. Ditempuh sehari-hari dengan berjalan kaki. Bus dari Maktab berhenti di terminal. Selebihnya harus berjalan kaki menuju Masjid.

Saya tidak tahu persis jarak terpendek atau terjauh dari Maktab ke Masjidil Haram. Masing-masing sudah ada ketetapannya. Jarak yang saya tempuh lebih dari 1.5 km di mana lebih dari 80% melewati terowongan, persisnya di Jarwal.

Selama 30 hari menempuh perjalanan tersebut. Untuk mengikuti Shalat Jamaah dan melaksanakan ibadah lainnya. Bisa dibayangkan jika harus pulang pergi sesuai waktu Sholat. Tentu perjalanan fisik menjadi lebih banyak. Dan tidak sedikit yang menjalaninya dengan lebih banyak; mumpung di Mekah, manfaatkan waktu semaksimal mungkin.

Fisik terjaga dengan ketersediaan makan dan minum yang sesuai jadwal. Masalah menu sebaiknya tidak dipermasalahkan. Untuk pertama kali mungkin butuh penyesuaian. Untuk waktu selanjutnya dinikmati saja dengan baik. Pemerintah sudah menyediakan makanan sehari-hari khas Indonesia.

Masjidil Haram dilengkapi dengan Air Conditioner (AC) yang standar. Di hampir setiap tiang dipasang AC. Merasa terlalu dingin adalah hal wajar. Fisik kita bisa beradaptasi dari waktu ke waktu. Bagi yang tidak tahan dengan suasana dingin bisa menyesuaikan diri; misalnya dengan mengenakan jaket.

Perjalan ke Arafah dan Muzdalifah

[9] Perjalanan dari Mekah menuju Arafah

Perjalanan naik Bus dari Mekah ke Arafah tidak lebih dari satu jam. Tergantung situasi kepadatan lalu lintas. Setahu Saya, pemerintah Arab Saudi mensterilkan banyak ruas jalan khusus pada saat prosesi di Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Ini perjalanan siang hari yang sangat menakjubkan, bersama dengan jutaan jemaah haji menuju satu tempat; Padang Arafah. Wukuf di Arafah sebagai puncak ibadah haji wajib dilaksanakan oleh jemaah haji. Bahkan yang secara fisik tidak memungkinkan untuk melaksanakannya, dilayani dengan Safari Wukuf.

Baca Juga :   Malam Lailatul Qadar Rahasia Allah SWT.

Membutuhkan kesiapan fisik yang baik untuk melaksanakan Wukuf. Juga menyiapkan diri untuk perjalanan berikutnya. Perjalanan ini sudah diatur sedemikian rupa. Jemaah harus benar-benar fokus untuk rangkaian ibadah yang dijalani.

 [10] Perjalanan dari Arafah ke Muzdalifah

Selesai Wukuf, perjalanan dilanjutkan dari Arafah ke Muzdalifah. Ini juga membutuhkan fisik yang sehat, terutama untuk melaksanakan Mabit. Beda dengan Arafah yang bertenda, di Muzdalifah tidak ada tenda. Yang ada adalah tanah gersang yang sangat luas.

Jemaah Haji diturunkan dari Bus lalu menetap untuk sementara waktu. Sambil mengumpulkan kerikil yang nanti disiapkan untuk lempar Jumroh di Jamarat, Mina. Jemaah haji harus sampai Muzdalifah dalam hitungan waktu di malam hari itu juga.

Bagi sebagian jemaah Haji, Mabit bisa jadi benar-benar dimanfaatkan untuk tidur walau sejenak. Istirahat yang cukup. Karena jemaah haji juga tidak boleh keluar dari area Muzdalifah. Hampir dipastikan kelelahan menghantui Jemaah. Inilah ujian jemaah haji di malam hari.

Saya bisa membayangkan mengapa Rasulullah SAW menetapkan Mabit di Muzdalifah, dan itu di malam hari. Ya, supaya jemaah bisa beristirahat walaupun sejenak. Bagaimana jemaah haji masa lalu menempuhi ini semua? Tentu lebih melelahkan.

Kelelahan juga menimpa jemaah karena antrian yang sangat panjang menuju pintu keluar dan masuk Bus menuju ke Mina. Ini bisa berlangsung berjam-jam. Karena harus menunggu proses masuk Bus untuk perjalanan menuju ke Mina.

Berlanjut ke 15 perjalanan berikutnya dari 25 perjalanan fisik haji yang Saya sampaikan di sini.

Menuju Mina dan Perjalanan Fisik ke Jamarat

[11] Perjalanan dari Muzdalifah ke Mina

Keluar dari Muzdalifah selepas subuh. Ini pengalaman yang saya alami. Ada trouble di panitia seksi transportasi. Sebagian Rombongan kami benar-benar menghabiskan malam di Muzdalifah. Lebih dari 6 jam di tanah lapang Muzdalifah.

Di sepanjang perjalanan Muzdalifah-Mina, tampak banyak sekali jemaah haji yang berjalan kaki. Saya tidak bisa membayangkan betapa kuat kondisi fisik mereka. Bukan tidak mungkin, mereka juga berjalan kaki dari Arafah ke Muzdalifah, lalu ke Mina.

[12] Selama di Mina menempuh perjalanan fisik jalan kaki untuk melaksanakan rangkaian haji yaitu Lempar Jumrah baik Ula, Wustho maupun Aqobah

Perjalanan fisik haji di sesi lempar Jumrah harus ditempuh oleh jemaah haji. Jika tidak bisa melaksanakan, wajib digantikan kepada jamaah lain untuk melaksanakannya.

Dari Tenda ke Jamarat perjalanan ditempuh lebih dari dari 6 kilometer. Berangkat 3 Kilometer. Pulang berjalan 3 kilometer. Ini perjalanan fisik yang luar biasa. Lelah, pasti. Tapi berjalan berombongan dengan ratusan ribu jamaah pada saat yang bersamaan, mampu menghilangkan rasa lelah.

Rute perjalanan ke Jamarat ditempuh dari 40-an menit. Sebagian mungkin lebih dari itu. Tergantung situasi tempat antrian di Jamarat dan sepanjang perjalanan pulang dari Jamarat menuju Tenda. Berangkat melewati Terowongan Al Muaisim. Dan pulang melewati terowongan yang lain. Dua-duanya disediakan untuk jalur keberangkatan dan kepulangan.

Mina tempat Jemaah haji menmepuh perjalanan lempar Jumroh

Mina, kota seribu tenda persinggahan jemaah haji seluruh dunia. Perjalanan fisik Haji di Mina berawal dan berakhir dari Tenda

Menghuni tenda dan menjadi penduduk Kota Mina selama 2 hari 3 malam di Mina. Tidur dan istirahat di dalam tenda. Semuanya tanpa kecuali. Berdesakan. Berhimpitan. Sebuah pengalaman perjalanan fisik yang mengagumkan. Bagi yang mengambil Nafar Tsani, tanggal 13 Dzulhijjah baru meninggalkan Kota Tenda, Mina.

Wukuf, Mabit dan Lempar Jumrah sudah dilaksanakan. Sebagian jamaah melaksanakan Tahallul Qubra di Mina. Arafah, Muzdalifah dan Mina segera akan ditinggalkan. Entah kapan akan sampai di sana lagi.

[13] Perjalanan dari Mina kembali ke Maktab di Mekah setelah selesai rangkaian ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Perjalanan ini ditempuh sekitar satu jam.

 [14] Menempuh perjalanan fisik dengan berjalan kaki dari Maktab menuju Masjidil Haram untuk menyelesaikan prosesi ibadah haji dengan melaksanakan Thawaf Ifadhoh dan juga Thawaf Wada’;

Inilah detik-detik akhir berada di kota Mekah. Menggenapkan prosesi ibadah haji, masih harus menempuh Thowaf Ifadhoh. Dan lagi, kondisi badan tubuh fisik benar-benar diuji. Sampai pelaksanaan Thawaf Wada’, Thawaf perpisahan, dan bersiap meninggalkan kota Mekah.

Bagi jemaah haji gelombang I, sudah harus persiapan menuju proses kepulangan ke tanah air. Pun demikian, masih harus menempuh perjalanan panjang.

[15] Perjalanan kepulangan dari Maktab di Mekah ke Bandara Jeddah, bagi Jemaah haji Gelombang I

[16] Naik pesawat untuk menempuh perjalanan kepulangan dari Bandara Jeddah ke Bandara Debarkasi di Tanah Air bagi Jemaah haji Gelombang I

Jemaah haji Gelombang I bersiap meninggalkan kota Mekah dan pulang ke tanah air. Sementara itu, jamaah haji gelombang II bersiap menuju perjalanan ke Madinah.

[17] Mereka masih harus menempuh perjalanan menggunakan Bus untuk pulang dari bandara debarkasi ke rumah. Bahkan mungkin harus disambung beberapa perjalanan kendaraan bagi sebagian jemaah haji

[18] Perjalanan dari Mekah ke Madinah

25 Perjalanan fisik haji belum selesai. Masih ada perjalanan dari Mekah menuju ke Madinah. Mengemas barang bawaan menjadi pekerjaan fisik tersendiri. Memastikan tidak ada yang tertinggal menjadi bentuk ketelitian.

Jarak Mekah ke Madinah sekitar 454 km ditempuh menggunakan Bus selama lebih kurang 5 sampai dengan 6 jam. Padang gersang bisa disaksikan sepanjang perjalanan siang hari. Sedikit saja bisa ditemui pepohonan dan tumbuhan.

Perjalanan berangkat sekitar jam 16.00 WAS dari Mekah, sampai di Madinah sekitar jam 10.00 WAS. Suasana perjalanan separuh sore separoh malam menghadirkan pengalaman tersendiri.

Di perjalanan Mekah-Madinah ini, bayangkan bagaimana perjalanan Rasulullah Muhammad SAW melaksanakan Hijrah bersama para sahabat. Jarak yang sangat jauh sekali, untuk hitungan kilometer dengan tidak ada kendaraan selain Unta.

Dan perjalanan menuju Madinah adalah perjalanan hendak menemui Rasulullah Muhammad SAW, juga beberapa sahabatnya yang dimakamkan di madinah. Ini menumbuhkan motivasi tersendiri dalam perjalanan.

[19] Selama berada di Madinah mengambil perjalanan fisik, jalan kaki, pulang pergi dari Maktab ke Masjid Nabawi

Baca Juga :   Tidak Ada Umroh Bulan Ramadhan 2020

Cuaca di Madinah kebetulah sedang lebih panas daripada di Mekah. Fisik pasti terpengaruh, khususnya saat perjalanan pulang-pergi Masjid-Maktab. Cuaca Sangat terasa menyengat di wajah.

Bagi jemaah haji Indonesia, bisa menggenapkan Shalat Arbain, Shalat Wajib Berjamaah 40 Waktu di Madinah menjadi prioritas. Terlebih bisa ziarah ke Makam nabi Muhammad SAW dan bisa berdiam diri, Shalat di Raudloh.

Menuju Raudloh adalah perjalanan fisik yang unik. Jemaah haji diatur sedemikian rupa secara bergelombang. Harus rela antri, karena diberlakukan sistem buka-tutup. Harus ada tekad dan niat yang kuat. Jika berkesempatan masuk ke Raudloh yang melewati masa Shalat berjamaah, ini luar biasa, karena bisa berdiam diri lebih lama di sana.

Selagi cukup waktu, manfaatkan untuk berjalan dan berziarah ke Makam Rasulullah melalui Baburrohmah. Pintu hampir selalu dibuka kecuali pas pelaksanaan Shalat Berjamaah. Perhatikan aturan dari petugas keamanan. Ini akan memperlancar perjalanan ziarah.

[20] Beberapa perjalanan menuju tempat-tempat ziarah /wisata di Madinah yang disediakan oleh penyelenggara ibadah haji.

Ini perjalanan yang sangat singkat. Hanya ditempuh setelah waktu subuh hingga sebelum waktu Dhuhur tiba. Perjalanan dibuat singkat karena mengejar waktu agar tidak tertinggal Shalat Berjamaah.

Beberapa tempat yang dikunjungi antara lain; Wisata Kebun Kurma, Jabal Uhud dan Makam Syuhada Uhud. Untuk Masjid Khandaq dan Masjid Qiblatain hanya dilintasi dalam perjalanan. Peran Guide City Tour sangat penting untuk menjelaskan semua detail tempat yang dikunjungi.

Selama di madinah, di sela waktu yang ada, baiknya dimanfaatkan untuk berziarah ke Jannatul Baqi’, pemakaman Baqi’. Bisa berombongan. Bisa juga beregu. Di sekitar Masjid Nabawi juga bisa mengunjungi beberapa Masjid seperti masjid Imam Bukhari, Masjid Abu Bakar Sidiq, Masjid Ali Bin Abi Thalib. Tapi semua masjid dalam keadaan tertutup. Hanya bisa menyaksikan dari sisi luar masjid.

Masjid Ghamamah Dekat Masjid Nabawi di Madinah

Siapapun jemaah haji pasti akan merindukan suasana Kota Mekah, juga Madinah. Namun, kota Mekah sudah ditinggalkan. Dan sebentar lagi, akan segera menempuh perjalanan fisik haji lainnya yaitu meninggalkan kota Madinah.

[21] Perjalanan Meninggalkan Madinah

Rangkaian dari 25 perjalanan fisik haji selama menetap di Mekah dan Madinah sudah dilalui. Saat-saat hendak meninggalkan kota Madinah rasanya lebih terharu. Ya, sedih bercampur rindu yang mulai menggelayut. Meninggalkan tanah dan kota di mana Rasulullah Muhammad SAW dimakamkan…..tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Hanya doa meninggalkan Madinah:

Allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aali muhammadin walaa taj’alhu aa khirul ‘ahdi binabiyyika wa huththa auzaarii biziyaaratihi wa ashhibnii fii safarii as-salaamata wa yassir rujuu’ii ilaa ahlii wawathanii saaliman yaa arhamarrahimiin

Artinya; Ya Allah, limpahkanlah rahmat, shalawat, dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya dan janganlah menjadikan kunjungan ini sebagai kunjungan akhir kedatanganku kepada Nabi-Mu. Hapusknalah segala dosaku dengan menziarahinya dan sertakan keselamatan dalam perjalananku ini menuju keluargaku dan tanah airku dengan selamat, wahai Tuhan yang Maha Pengasih dari segala pengasih.

[22] Naik pesawat untuk menempuh perjalanan kepulangan dari Bandara Madinah ke Bandara Debarkasi di Tanah Air

Inilah perjalanan yang akan mengakhiri seluruh rangkaian perjalanan ibadah haji. Perjalanan menuju Bandara Madinah dilanjutkan perjalanan menggunakan pesawat untuk kepulangan dari Madinah ke tanah air. Semua berjalan sangat singkat. Karena jadwal penerbangan sudah ditetapkan. Dan pada saatnya, harus terbang, selama belasan jam kemudian.

[23] Perjalanan menggunakan Bus untuk pulang dari bandara debarkasi ke rumah.

[24] Perjalanan Fisik Haji yang tertunda

Di sela 25 perjalanan fisik haji, ada perjalanan yang harus disertakan. Yaitu Perjalanan yang tertunda. Ini hampir pasti terjadi. Bagi mereka yang menderita sakit cukup lama selama di Mekah, juga di Madinah, harus menunda perjalanan fisiknya.

Tidak sedikit jamaah haji yang waktunya lebih banyak untuk menjalani perawatan di rumah sakit, daripada melaksanakan ibadah. Mereka bisa saja tidak bisa pulang tepat waktu. Ada juga jamaah haji yang pulang lebih dulu, terpisah dari Kloter sebelumnya. Atas rekomendasi petugas kesehatan juga pihak terkait.

Saya tidak membayangkan tahun 2020 ini, seluruh jamaah haji dari Indonesia, perjalanan fisik haji nya ditunda. Saya juga tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya belum bisa berangkat haji di tahun 2020 ini. Namun, memang ada fakta. Ada sedikitnya 10 Peristiwa Penyebab Ibadah Haji Ditangguhkan Hingga Ditiadakan. Ini bisa menjadi bahan renungan untuk semua calon jemaah haji.

[25] Perjalanan Fisik Haji yang terhenti

Ada perjalanan fisik haji yang tertunda. Tapi ada juga perjalanan fisik haji yang terhenti. Ini sengaja saya sertakan karena menjadi bagian dari deskripsi 25 perjalanan fisik haji di artikel ini.

Kisah, berita tentang calon jemaah haji yang meninggal dunia dalam perjalanan keberangkatan, meninggal dunia di pesawat, pernah ada dan terjadi. Ini pasti berhubungan dengan kondisi fisik. Ada tren penyakit yang bisa jadi menyerang secara tiba-tiba dan dahsyat.

Petugas medis juga manusia biasa. Usaha yang dijalankannya sudah maksimal. Tapi calon jemaah haji tetap berpotensi meninggal dunia. Bahkan meninggal dunia dengan sebenarnya. Tak seorangpun bisa menghentikan takdir kematian, bahkan di dalam pesawat sekalipun.

Potensi meninggal dunia dalam perjalanan fisik haji lebih banyak terjadi saat sudah di Mekah maupun di Madinah. Setiap musim haji, ratusan bahkan ribuan jemaah haji meninggal dunia dari seluruh dunia. Mereka yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji, sudah memenuhi dua panggilan ilahi; yaitu haji dan mati.

Inilah yang saya sebut sebagai perjalanan fisik haji yang terhenti. Tidak ada maksud apa-apa selain menorehkannya dalam sebuah tulisan. Semoga Allah SWT menjadikan mereka sebagai Syuhada Haji.

Catatan Akhir Perjalanan Fisik Haji

Terima kasih jika anda sampai di paragraf ini. Artikel tentang perjalanan haji ini memang panjang. Sudah diusahakan ditulis dengan cara menulis yang efektif, tapi tetap saja hasilnya sangat panjang. Artikel ini tentu tidak sempurna, jauh dari sempurna.

Saya sudah mengusahakan menyajikannya dengan modal memori dan ingatan. Mungkin seharusnya lebih dari 25 perjalanan fisik haji. Namun, kiranya cukup untuk dijadikan bahan untuk melengkapi bacaan lain, yang disajikan sesuai fakta dan data atau istilah-istilah. Seperti ini artikel > 49 Istilah-Istilah Di Dalam Ibadah Haji dan Umroh

Catatan akhir Saya: terima kasih sudah berkenan membaca. Siapa tahu bermanfaat untuk catatan perjalanan ibadah haji Anda di kemudian hari. Dan anda bisa melengkapinya di sini.

 

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka. Munawar A.M. Penulis Freelance. Terima kasih sudah singgah di Blog Artikel Opini, Review & Esai Digital ini. Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

2 Comments

  • Alhamdulillaah berhasil membaca hingga paragraf terakhir, sambil sesekali tercekat sesenggukan, karena seperti menapaktilasi perjalanan yg sama di thn 2019 lalu, saya dlm satu kloter dgn author, meski beda rombongan dan beda regu, cuma sama sama satu KBIH, selamat melanjutkan menulis, kami tunggu artikel berikutnya

Leave a Comment