Media Sosial Opini

Facebook Melarang dan Menghapus Konten Kebencian

Facebook melarang dan menghapus konten kebencian. Atas larangan tersebut, jutaan konten bernuansa kebencian telah dihapus.

Apakah penghapusan ini ada dasar nya? Bagaiamana dengan konten yang anda tulis dan statuskan? Apakah video Anda juga yang ikut terhapus karena masuk kategori konten kebencian? Semoga tidak.

Per selasa 12 Mei 2020, Facebook melaporkan peningkatan tajam dalam jumlah unggahan yang dihapus. Mengapa? Kkarena mempromosikan kekerasan dan kebencian di seluruh platformnya. Laporan itu berasal dari teknologi yang dikembangkan Facebook, yang secara otomatis mengidentifikasi teks dan gambar.

Platform Media Sosial besutan Mark Zuckerberg itu telah menghapus sekitar 4,7 juta konten. Khususnya yang berhubungan dengan kebencian terorganisir pada kuartal pertama 2020. Angka tersebut mengalami kenaikan dari 1,6 juta konten pada kuartal sebelumnya. (TeknoTempo)

Kebijakan Facebook

Monika Bickert, Head of Global Product Policy dan Justin Osofsky Vice President of Global Operations, keduanya merupakan Tim dari Facebook, menyatakan banyak hal berkaitan kebijakan Facebook tentang Standar Komunitas bagi para penguna.

Standar Komunitas itu, merupakan kebijakan paling mendasaar dari Facebook yang seyogiyanya dibaca terlebih dahulu oleh siapapun yang mau membuat akun dan menggunakan Facebook. Kita simak pernyataan Standar Komunitas Facebook yang pertama, berikut ini;

“Kami tidak memberi toleransi perilaku yang membahayakan orang lain, meskipun orang tersebut mengorganisir atau mendukung kekerasan di dunia nyata atau mengganggu orang lain.

Baca Juga :   Dana Desa Responsif Bencana

Mengharuskan orang untuk menggunakan identitas asli mereka di Facebook akan membantu memotivasi kita semua untuk bertindak secara bertanggung jawab, karena nama dan reputasi kita secara nyata terhubung dengan kata-kata dan tindakan kita”

Secara dengan sangat jelas, Facebook tidak mentolerir penggunaan akun palsu. Saya bisa mengatakan bahwa para pembuat dan pemilik akun palsu di Facebook tidak membaca Standar Komunitas tersebut.

Konten Seksual, Kebencian, Kekerasan

Standar Komunitas sendiri dibuat oleh pihak Facebook untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setiap hari, orang di seluruh dunia berbagi miliaran kiriman di Facebook yang menambahkan nilai bagi kehidupan.

Tapi terkadang orang membagikan konten yang dapat mengganggu atau menyakiti anggota komunitas lainnya.

Itulah mengapa Facebook membuat Standar Komunitas – untuk menjelaskan jenis kiriman yang tidak pantas untuk dibagikan di Facebook.

Standar Komunitas Facebook bertujuan untuk menemukan keseimbangan antara memberikan orang-orang tempat mengekspresikan diri mereka dan mendukung sebuah lingkungan yang nyaman dan aman untuk setiap orang.

Kedua, Facebook mendorong perilaku saling menghormati. Facebook meminta semua orang untuk mempertimbangkan pemirsa mereka ketika berbagi sesuatu yang mungkin menyinggung orang lain.

Baca Juga :   Teroris Lone Wolf, Siapa Mereka?

Dan kebijakan Facebook sangat jelas, melarang konten eksplisit secara seksual, mengandung kebencian, dan kekerasan. Di sini jelas bahwa Facebook melarang konten kebencian, dan konten menjadi tanggungjawab pemilik akun.

Ketiga, Facebook mengakui keragaman budaya. Untuk memastikan bahwa kebijakannya mencerminkan keragaman komunitas. Facebook secara terus menerus mencari dan meninjau masukan dari para pakar dari seluruh dunia serta dari komunitas kami. Wawasan tersebut membantu mereka (Owner Facebook) memahami konteks saat orang berbagi dan melihat konten.

Keempat, Facebook memberi kepada para pengguna dan/atau pemilik akun), alat-alat (tools) untuk mengendalikan apa yang pengguna lihat di Facebook, yang berguna untuk mengendalikan apa yang pengguna lihat, melaporkan berbagai hal kepada pihak Facebook, dan menghubungi orang yang mengirim hal yang tidak disukai atau tidak disetujui oleh pengguna.

Penggunaan Akun Facebook Palsu

Memalsukan akun sendiri di Facebook sejatinya memalsukan diri sendiri. Memang menjadi mudah untuk menyembunyikan banyak hal tentang diri pemilik akun.

Siapa pemilik akun sesunguhnya, kadang bisa dilihat, paling tidak dari status, informasi, gambar, artikel dan ujaran lain yang dibagikan. Jika anda pemilik akun palsu, mungkin anda sedang sibuk me-remove dan membersihkan status-status anda di Facebook.

Tapi, anda tidak bisa sepenuhnya membersihkannya, karena Facebook memiliki kebijakan lain tentang hal itu. Apa yang diunggah dalam kronologi atau komentar yang diberikan pada status teman-teman, secara otomatis masuk ke dalam cookies dan chace yang dimiliki Facebook.

Baca Juga :   Gus Dur, Seorang Sufi Perawat Toleransi

Dan Facebook bisa memberikannya kepada pihak-pihak yang meminta, termasuk kepada pihak Kepolisian, sesuai dengan kebijakan yang diberlakukan.

Kita sering mendengar, ada Akun Facebook diretas. Nah, ini juga bagian yang harus diperhatikan. Agar jangan sampai menimpa akun Anda. Lepas atau terkait bahwa akun anda asli atau palsu.

Jika anda pemilik akun palsu di Facebook, mungkin ungkapan Gde Prama berikut ini bisa direnungkan;

“Hadapi Kepalsuan dengan Batin yang Bersih. Dengan batin yang bersih, Anda seperti sudah menyalakan lilin pada waktu yang gelap. Tindakan ini sekurang-kurangnya, tidak akan membuat Anda tersandung. Ciri-ciri orang berbatin bersih, mereka tidak akan tertarik mengikuti yang palsu-palsu. Jika Anda tertarik mengikuti yang palsu-palsu, itu pertanda lilin pencerah Anda belum menyala.”

Sudah menjadi kebijakan dan tanggungjawab Facebook sendiri, untuk melarang sekaligus menghapus konten-koten bernuansa kebencian. Jika kita merasa ada posting yang hilang, mungkin itu bagian dari kerja mesin penghapus otomatis dari Facebook.

Demikian, mudah-mudahan sedikit artikel ini bisa menambah wawasan literasi media sosial, dan semoga bermanfaat.

About the author

Kang Nawar

Hello ! Saya Kang Nawar aka.Munawar A.M. Penulis Freelance. Beberapa tulisan Saya pernah dimuat di media masa. Terima kasih sudah singgah di Blog Kumpulan Artikel Opini, Review & Esai Digital ini.

Berkenan kiranya untuk membagikan artikel dan mengikuti saya di media sosial. Silakan tinggalkan pendapat dan jejak anda pada kolom komentar. Saya menunggu dengan senang hati. Saya berharap Anda akan datang kembali ke blog ini. Terima Kasih.

Leave a Comment