Doa sebagai Ibadah dan Inti Ketaatan Hamba Allah SWT

Doa adalah ibadah dan dalam Islam, berdoa merupakan bentuk ibadah yang sangat penting karena merupakan inti dari ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Lalu bagaimana makna dan pengertian dari doa sebagai ibadah?

Ibadah dan Doa sebagai Ketaatan

Dalam Al-Qur’an Surat Adz-Daariyat ayat 56, Allah SWT berfirman. Wa Mâ Khalaqtul-Jinna wal-Insa Illâ Liya‘budûn, yang artinya Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Dalam terminologi Islam, ibadah adalah proses sadar dan beradasarkan landasan Syariat untuk menghambakan diri kepada Allah SWT. Ibadah merupakan bentuk ketaan seorang hamba atas perintah Allah SWT. Dan Beribadah berarti menjalankan serangkaian cara dalam rangka menghambakan diri kepada Allah SWT.

Ada beberapa jenis ibadah wajib, dan lebih banyak lagi jenis ibadah yang Sunnah. Ibadah yang wajib bagi seorang hamba yang mujslim dan mukmin adalah Shalat Fardhu 5 Waktu, Puasa Ramadhan, Menunaikan Zakat dan Menjalankan Ibadah Haji dengan ketentuan bagi yang mampu.

Di dalam jenis ibadah yang wajib di atas, di dalamnya penuh dengan untaian doa-doa. Secara syar’i, shalat adalah ibadah yang terdiri dari ucapan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, dengan syarat-syarat yang telah ditentukan.

Ucapan-ucapan yang dilaksanakan selama proses menjalankan ibadah Shalat, banyak sekali yang berisi ucapan berupa doa/ Tentu saja, selain ucapan yang bersumber dari bacaan ayat-ayat Al-Qur;an. Dan dalam pembacaan ayat Al-Qur’an dalam rangkaian shalat pun sebagiannya berisi ucapan doa. Seperti pada saat Ruku’, Sujud, I;tidal dan lain sebagainya.

Doa sebagai Ibadah

Sementara itu, Doa merupakan tindakan wajib manusia sebagai hamba yaitu dengan cara berdoa dan beribadah dalam mewujudkan dan menjalankan perintah Allah SWT. Tuhan yang menyuruh hambaNya untuk meminta dan memohon pertolongan hanya kepadaNya.

Hal itu tercermin Surat Al Fatihah ayat 5 Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in yang melahirkan konsep dasar dalam Islam tentang Ta’abbud dan Isti’anah. Sebuah konsep tentang hubungan antara penghambaan dengan permintaan tolong (permohonan) kepada Allah SWT.

Baca juga Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in, Makna dan Pengertian.

Doa sebagai Ibadah tercermin dalam Hadits Nabi Muhmmad SAW, Nabi bersabda; Doa adalah murninya (otak atau pangkalnya) ibadah. Hadits shahih ini merupakan riwayat dari imam At-Tirmidzi dari Anas bin Malik.

Imam An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan bahwa doa itu murninya ibadah disebabkan karena dua hal. Pertama; doa itu wujud dari menjalankan perintah Allah SWTyang menyuruh hambaNya untuk meminta kepada Nya. Kedua; jika ia melihat kesuksesan urusan-urusannya dari Allah SWT., maka ia pun memutuskan pengharapannya kepada selain Allah SWT. Yaitu ia hanya meminta kepadaNya untuk hajatnya.

Penjelasan Imam Nawai Al-Bantani di atas selaras dengan ayat Ud’uni Astajib Lakum yang artinya Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan, yang terdapat dalam Surah Ghafir (Al-Mu’min) ayat 60 di dalam Al-Qur’an.

Hamba yang Taat, Rajin Beribadah dan Berdoa

Hamba Muslim dan Mu’min yang taat kepada Allah SWT mencerminkan pribadi yang rajin beribadah dan sekaligus rajin berdoa. Ketaatan seorang hamba kepada Allah tercermin dalam beribadah, yaitu dengan melaksanakan ibadah karena adanya landasan ketaatan atas perintah Allah SWT.

Sementara itu, ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT juga tercermin dalam berdoa, dalam rangkaian ucapan dan bacaan doa-doa sehari-hari. Juga di waktu waktu tertentu di luar pelaksanaan Ibadah Wajib. Hamba tersebut menjadikan doa sebagai bagian dari ibadah.

Dalam doa, seorang hamba mengakui kelemahan dan kekurangan dan mengakui hanya Allah SWT Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, dan seterusnya. Doa yang seorang muslim dan mumin panjatkan dalam ibadah, Insyaallah Allah SWT kabulkan. Yaitu, manakala berkelanjutan dengan perubahan sikap dan perilaku ke arah yang lebih baik, dengan ciri perilaku dan tindakan berakhlakul karimah (akhlakk mulia)

Dari hamba Muslim dan Mu’min yang taat kepada Allah SWT, yang rajin menjalankan ibadah (beribadah) dan telaten memanjatkan doa (berdoa), tercermin  akhlakul karimah (akhlakk mulia). Dan hamba dengan akhlak yang mulia itu, yang sadar dan menyadari serta mengamalkan pesan dari hadits Nabi Muhammad SAW. Bahwa, Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.

Baca juga Bacaan doa tawasul kepada Nabi Muhammad SAW

Jenis dan Sumber Doa

Doa yang bernilai ibadah dan menjadi inti ibadah serta cermin ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT memilki jenis dan sumber.

Secara umum, jenis doa dapat dibagi menjadi dua kategori utama: doa ibadah dan doa permohonan. Doa ibadah adalah segala bentuk ibadah yang dilakukan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca juga Doa Rabbana (Ayat Al-Qur’an), Teks Arab Latin dan Artinya

Sedangkan doa permohonan adalah doa yang berisi permintaan atau permohonan kepada Tuhan. Selain itu, ada juga jenis doa lain seperti doa sehari-hari, doa ibadah khusus (seperti doa untuk orang sakit, doa keselamatan). Juga doa dalam tradisi keagamaa Islam yang sangat banyak itu.

Kalimat-kalimat dalam doa yang utama adalah doa-doa yang bersumber dari doanya para nabi dan Rasulullah SAW. Baik yang bersumber dari dan tertuang dalam Al-Qur’an maupun Al Hadits. Doa-doa tersebut sudah banyak yang merupakan hasil ijtihad para Ulama terdahulu. Para Ulama yang Shalih, Muhlish dan Zuhud serta Wara’.

Adab dalam Berdoa

Menurut jumhur atau mayoritas Ulama, dalam memanjatkan doa atau berdoa perlu memperhatikan dan metauhi adab seperti ikhlas, yakin, khusyuk dan jenis adab doa lainnya. Adab dalam berdoa akan menyempurnakan doa sekaligus pintu masuk diterimanya ibadah.

Ikhlas merupakan adab yang utama dalam berdoa. Doa harus dengan ikhlas, semata-mata karena Allah SWT, bukan karena mengharapkan pujian manusia. Berdoa sendiri merupakan sara melatih keikhlasan melalui ucapan-ucapan penuh kepasrahan.

Yakin sejak dari dalam hati berarti bahwa berdoa harus disertai dengan keyakinan bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa, meskipun hasilnya mungkin tidak sesuai dengan harapan. Sebaliknya, ketidakyakinan akan berpotensi tidak terpanjatkannya doa sebagaimana mestinya. Sehingga berpotensi menjadi ucapan-ucapan ritual tanpa makna.

Baca juga Bermadzhab dalam Beribadah, Menjaga Kualitas Ibadah

Khusyuk dalam berdoa juga merupakan adab yang harus diperhatikan. Maksudnya, saat berdoa hendaknya dilakukan dengan khusyuk dengan ciri fokus dan penuh penghayatan. Keadaan khusyuk memerlukan suasana seperti hening dan kontemplatif.

Islam juga mengajarkan adab-adab dalam doa dan dalam berdoa, seperti memuji Allah SWT, bershalawat atas Nabi Muhammad SAW, dan merendahkan diri dalam ketaatan sebagai hamba Allah SWT.

Demikian artikel esai Islami tentang doa sebagai ibadah dan inti ketaatan hamba kepada Allah SWT. Semoga bermanfaat.

Terima kasih untuk Anda berkenan menemukan Kami di X Twitter juga Instagram dan Facebook

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button